Bagaimana menurut Anda tentang sikap banyak memberi pada sesama? Apakah Anda merasa kehilangan atau justru merasakan kepuasan batin? Dalam kehidupan sehari-hari, cukup banyak kita menemukan orang-orang yang berprinsip harus punya sesuatu yang banyak dulu untuk berbagi dengan orang lain, memberi dengan maksud mengharap balasan, dan melakukan sesuatu kalau ada imbalannya. Memberi dalam hal ini tidak selalu bersifat materi atau harta benda semata, tapi juga memberi sesuatu hal lain seperti waktu, tenaga, atau bahkan berbagi tips dan pengalaman. Melipatgandakan Rezeki Banyak buku-buku motivasi dan spiritual yang membahas bahwa sikap suka memberi itu justru membuat seseorang semakin ‘kaya’, bukan malah kehilangan. Apalagi ketika tidak diikuti dengan mengharapkan balasan, tentu efeknya lebih positif lagi buat pemberi atau penerima. Dilihat dari alasan yang masuk ke dalam ranah spiritual, memberi sedekah akan dilipatganakan rezekinya. Rezeki bukan hanya berbentuk harta benda tapi juga dalam bentuk lain yang berlangsung lama misalnya kesehatan, keluarga yang bahagia, anak-anak yang cerdas, dan sebagainya. Konsep Give and Take Konsep memberi dan menerima (give and take) sebenarnya sangat mendasar sepanjang hidup manusia. Atau barangkali anda lebih familiar dengan take and give, yang kemudian dipahami sebagai urutan yang kita inginkan: mengambil atau menerima dulu, baru kemudian memberi. Dalam istilah bahasa Indonesia bisa kita lihat pada pasangan kata-kata berikut; hak dan kewajiban atau pemasukan dan pengeluaran. Masing-masing terlihat sebagai kata benda yang berlawanan. Biar Hukum Alam yang Bekerja Secara logika, ketika seseorang memberi suatu hal, itu bisa membuat apa yang dimiliki menjadi berkurang. Tapi, logika juga yang ‘berkata’ bahwa ketika kita memberi sesuatu pada yang membutuhkan, kita ikut melancarkan proses sirkulasi kehidupan. Dalam arti lebih sederhana, ketika kita memberi sesuatu ke orang atau kelompok yang sedang melakukan proses kebaikan, maka kebaikan itu akan memantul pada yang memberi. Dilihat dengan attitude spiritual, mestinya dalam memberi sesuatu, tidak perlu mengharap balasan. Biarkan hukum alam yang sejalan dengan kehendak Sang Pencipta yang bekerja. Menjadi Lebih Bahagia dengan Memberi Penelitian dari National Institute of Health mengungkap bahwa aktivitas memberi mengaktifkan daerah otak yang berhubungan dengan kesenangan, kepercayaan, dan hubungan sosial. Para peneliti itu juga menyatakan bahwa sikap altruis bisa melepaskan endorfin di otak dan menghasikan perasaan positif. Balasan untuk orang yang suka memberi, seringkali terjadi dengan ‘mekanisme’ yang tidak kita sadari, sulit ditebak, atau kalau dalam bahasa kitab suci: datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Bagaimana menurut Anda tentang sikap banyak memberi pada sesama? Apakah Anda merasa kehilangan atau justru merasakan kepuasan batin? Dalam kehidupan sehari-hari, cukup banyak kita menemukan orang-orang yang berprinsip harus punya sesuatu yang banyak dulu untuk berbagi dengan orang lain, memberi dengan maksud mengharap balasan, dan melakukan sesuatu kalau ada imbalannya.

Memberi dalam hal ini tidak selalu bersifat materi atau harta benda semata, tapi juga memberi sesuatu hal lain seperti waktu, tenaga, atau bahkan berbagi tips dan pengalaman.

Melipatgandakan Rezeki

Banyak buku-buku motivasi dan spiritual yang membahas bahwa sikap suka memberi itu justru membuat seseorang semakin ‘kaya’, bukan malah kehilangan. Apalagi ketika tidak diikuti dengan mengharapkan balasan, tentu efeknya lebih positif lagi buat pemberi atau penerima. Dilihat dari alasan yang masuk ke dalam ranah spiritual, memberi sedekah akan dilipatganakan rezekinya. Rezeki bukan hanya berbentuk harta benda tapi juga dalam bentuk lain yang berlangsung lama misalnya kesehatan, keluarga yang bahagia, anak-anak yang cerdas, dan sebagainya.

Konsep Give and Take

Konsep memberi dan menerima (give and take) sebenarnya sangat mendasar sepanjang hidup manusia. Atau barangkali anda lebih familiar dengan take and give, yang kemudian dipahami sebagai urutan yang kita inginkan: mengambil atau menerima dulu, baru kemudian memberi. Dalam istilah bahasa Indonesia bisa kita lihat pada pasangan kata-kata berikut; hak dan kewajiban atau pemasukan dan pengeluaran. Masing-masing terlihat sebagai kata benda yang berlawanan.

Biar Hukum Alam yang Bekerja

Secara logika, ketika seseorang memberi suatu hal, itu bisa membuat apa yang dimiliki menjadi berkurang. Tapi, logika juga yang ‘berkata’ bahwa ketika kita memberi sesuatu pada yang membutuhkan, kita ikut melancarkan proses sirkulasi kehidupan. Dalam arti lebih sederhana, ketika kita memberi sesuatu ke orang atau kelompok yang sedang melakukan proses kebaikan, maka kebaikan itu akan memantul pada yang memberi. Dilihat dengan attitude spiritual, mestinya dalam memberi sesuatu, tidak perlu mengharap balasan. Biarkan hukum alam yang sejalan dengan kehendak Sang Pencipta yang bekerja.

Menjadi Lebih Bahagia dengan Memberi

Penelitian dari National Institute of Health mengungkap bahwa aktivitas memberi mengaktifkan daerah otak yang berhubungan dengan kesenangan, kepercayaan, dan hubungan sosial. Para peneliti itu juga menyatakan bahwa sikap altruis bisa melepaskan endorfin di otak dan menghasikan perasaan positif.

Balasan untuk orang yang suka memberi, seringkali terjadi dengan ‘mekanisme’ yang tidak kita sadari, sulit ditebak, atau kalau dalam bahasa kitab suci: datang dari arah yang tidak disangka-sangka.