Paradoks tentang Kenyamanan

Seringkali orang tergerak untuk berbuat sesuatu yang mendorong kemajuan signifikan karena alasan krisis atau situasi mendesak yang dihadapinya. Tentu saja krisis itu tidak nyaman. Makanya orang akan melakukan banyak hal agar bisa ‘naik kelas’ ke kondisi yang lebih nyaman.

Padahal kita tahu bahwa kenyamanan tidak banyak mengajarkan apa-apa. Sampai pada saatnya orang diuji dengan krisis lainnya, dan mengulangi pola suksesnya. Ia bekerja semaksimal mungkin, lalu mendapatkan kenyamanan lainnya. Untuk kemudian berjuang lagi dalam situasi berbeda.

Yang seperti itu terlihat seperti paradoks, yakni sebuah keadaan yang timbul dari premis yang dianggap benar sebagai landasan pemikiran yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan.

 

Mengapa kenyamanan tidak selalu berarti baik?

Karena di lingkungan yang menjanjikan  reward yang besar dalam sistem yang sudah mapan, ada kemungkinan bahwa orang-orangnya banyak yang kemudian seolah terlena, kurang belajar dan tidak dinamis. Maka orang-orang perlu menempa diri, menghadapi krisis, mengerahkan usaha sampai ke batas kemampuan diri.

Seringkali seseorang takut untuk berharap lebih, karena alasan yang klise yaitu: takut kecewa kalau tidak berhasil. Karena ketakutan itu, mereka takut untuk menghadapi berbagai macam konflik dan penolakan-penolakan. Karena ketakutan itu jugalah, orang terdorong untuk melakukan sesuatu yang aman, minim risiko, dan tidak menantang.

 

Apa itu sense of crisis?

Sering kali, orang yang sudah terlalu santai cenderung tidak banyak inisiatif untuk keluar dari zona itu. Karena itu, penting sekali untuk menumbuhkan sense of crisis. Kata sense dalam frasa sense of crisis, tidak hanya berarti kepekaan. Tetapi juga kewaspadaan, ketergesaan, kesegeraan, dan pada akhirnya kesigapan dalam menghadapi krisis. Krisis bisa berupa apa saja, asal menimbulkan efek tidak nyaman, dan perlu segera diatasi dengan cara-cara yang strategis.

 

Menantang Diri Sendiri

Bicara soal tantangan, disadari atau tidak kita terus menghadapinya. Sepanjang waktu kita selalu berhadapan dengan target. Nah, target itulah yang menjadi tantangan untuk mencapainya. Pernahkah Anda mencoba untuk memiliki tantangan dalam hidup yang membuat kehidupan Anda terarah? Tantangan akan memicu terjadinya perubahan yang baik dalam diri.