Orang Seperti Inilah yang Paling Mudah Memberikan Pengaruh pada Orang Lain

 

Untuk membuat keputusan secara efisien, otak manusia bisa mengambil jalan pintas sepanjang waktu. apa maksudnya? Mula-mula kita pahami tentang persepsi, pengetahuan atau kognitif, dan emosi yang mempengaruhi.

Khususnya tentang kemungkinan ‘bias kognitif’ yang bisa mempengaruhi seseorang dalam membuat keputusan. Lalu kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan bias kognitif ini yang ternyata justru membantu kita bertahan di dalamnya dan menghadapi dunia luar.

 

Nada Suara Membentuk Persepsi Tentang Apa yang Dikatakan

Salah satu alasan mengapa nada suara sangat penting adalah karena hal itu memengaruhi perasaan kita, bukan hanya apa yang kita pikirkan, sesuatu yang oleh peneliti disebut “penularan mood.” Misalnya, ilmuwan perilaku Roland Neumann dan Fritz Strack menemukan bahwa ketika mendengarkan sebuah pidato, subjek merasa lebih optimis jika presenter berbicara dengan nada optimis dibandingkan dengan yang muram.

Para peneliti dari Universitas Carnegie Mellon menunjukkan bahwa manusia lebih menyukai saran dari sumber yang percaya diri, bahkan sampai-sampai lupa memperhatikan apakah mereka punya rekam jejak yang buruk. Asalkan mereka terlihat percaya diri, meskipun belum tentu benar, orang cenderung lebih mudah mengikuti dan terpengaruh.

Orang seperti inilah yang paling mudah memberikan pengaruh pada orang lain. Jadi jika Anda ingin memengaruhi dan membujuk, mungkin akan lebih efektif untuk terdengar positif daripada berbicara dengan nada yang menyarankan Anda untuk memperingatkan, mengkritik, atau membujuk.

 

Empati dan Ketegasan dengan Mitra Negosiasi

Orang yang memiliki empati mengelola tantangan sulit untuk melihat negosiasi dari semua perspektif. Berempati dengan mitra negosiasi bisa sulit, tetapi melakukannya sangat penting untuk hasil yang sukses. Jangan lupa untuk menyeimbangkan rasa empati Anda dengan kemampuan Anda sendiri untuk menegaskan diri, yang penting untuk mencapai hasil terbaik.

Menegaskan diri Anda sangat penting untuk mencapai hasil terbaik untuk diri sendiri, tetapi jangan lupa untuk mempertimbangkan perspektif rekan Anda juga. Menyadari gaya mana yang paling nyaman sementara juga memahami bahwa gaya lain ada adalah bagian penting dari pembelajaran untuk menjadi negosiator yang lebih kuat.

Lebih dari sekadar aktivitas transaksional yang mengukur keberhasilan berdasarkan untung rugi yang bisa dihitung dengan angka, negosiasi adalah tentang membangun relasi jangka panjang, tentang menjaga komunikasi, tentang membantu orang membuat keputusan lebih baik.

Tentunya setiap pihak yang terlibat akan saling menghargai lebih dari sekadar posisi atau peran secara profesional, tapi juga sesama manusia. Bukankah menyenangkan sekali saat ada orang berkata pada kita: “Terima kasih karena Anda telah membantu saya untuk membuat keputusan yang terbaik.”