Bisakah Semua Pekerjaan Diambil Alih oleh Robot

 

The real problem is not whether machines think but whether men do (B.F. Skinner). Dengan berbagai kemajuan teknologi canggih yang ada, hal yang sebelumnya terlihat tidak mungkin bisa jadi mungkin terwujud. Bukan hal asing lagi kalau pengembangan mesin dan juga robot sudah makin banyak menggantikan tugas manusia.

 

Merekrut Robot untuk Bekerja?

Restoran makanan cepat saji di beberapa negara bahkan sudah mulai menggunakan robot sebagai pegawainya. Merekrut robot sebagai pegawai menjadi tren baru di kalangan pengusaha di negara maju.

Alasan perusahaan merekrut robot adalah biaya perawatan robot dianggap lebih rendah dibandingkan membayar sumber daya manusia. Robot-robot yang dirakit tersebut bisa melakukan tugas-tugas seperti memindahkan barang, bahkan sampai menghibur manusia.

 

Pekerjaan yang ‘Tidak Mau Tunduk’ pada Teknologi

Robot mungkin bisa diprogram untuk melayani pembeli di restoran cepat saji. Mereka pun bisa ‘berpikir’ dan menyelesaikan suatu teori matematika. Mereka juga tidak pernah menggerutu. Tapi tentu saja tidak semua pekerjaan bisa digantikan oleh robot, khususnya pekerjaan yang memerlukan kreativitas.

Tidak adanya faktor emosi robot itulah yang menyebabkan beberapa jenis pekerjaan tidak bisa dilimpahkan ke robot. Karena robot tidak memiliki imajinasi dan kreativitas, ini menyebabkan tidak ada robot yang menjadi penulis atau seniman. Sejauh ini belum ada teknologi yang memprogram sense seniman pada sebuah robot.

 

Robot Tidak (atau Belum?) Bisa Memahami Perasaan Manusia

Sebagaimana jiwa seni, empati dan perasaan sensitif merupakan sesuatu yang tidak bisa diprogram, dan digantikan oleh robot. Pekerjaan lain yang berhubungan dengan manusia seperti psikolog, pengasuh anak, dokter umum, dan posisi manajer yang membutuhkan skill kepemimpinan juga tidak bisa digantikan robot.

Selain faktor ketiadaan emosi pada robot, keberadaan robot pun sebenarnya tidak akan pernah lepas dari keberadaan manusia. Bahkan robot itu sendiri adalah buatan manusia.

Hal itu menyebabkan tidak ada yang bisa memahami perasaan manusia atau sifat emosional lain, selain manusia itu sendiri. Maka dari itu, orang yang punya kemampuan manajerial, khususnya untuk mengurusi manusia, dan juga profesi-profesi kreatif tidak akan tergantikan robot.