Mana yang Lebih Piawai dalam Menghadapi Konflik

 

Bagaimanapun kita berusaha melakukan sesuatu sesuai dengan prosedur, menghindari konflik, atau paling tidak mencegah agar tidak ada lagi pertentangan atau konflik, tapi ternyata pertentangan atau konflik itu terus ada. Konflik tidak bisa dihindari, tapi bisa dikelola. Setiap orang dari disiplin ilmu dan pengalaman berbeda memiliki pendekatan berbeda pula.

Bukan soal apa konfliknya, tapi tergantung bagaimana kita menghadapinya. Konflik dan negosiasi tidak terpisahkan. Dalam hal negosiasi, ternyata kita juga tidak bisa terlepas sepenuhnya dari urusan gender. Menurut Victoria Pynchon, seorang pengacara yang mengelola lembaga She Negotiates Consulting and Training, ini terkait dengan gaya komunikasi yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan yang tentu memiliki perbedaan di beberapa sisi.

 

Tentang Tujuan Negosiasi

Beberapa faktor penting yang mempengaruhi cara laki-laki dan perempuan dalam negosiasi, salah satunya adalah cara pandang terkait relasi dengan orang lain, pada tujuan-tujuan interaksi, seperti aspek interpersonal dari negosiasi.

Mereka mengedepankan empati, nilai-nilai, skill mendengarkan, dan orientasi kemenangan untuk kedua pihak (win win orientation). Sementara itu, negosiator laki-laki lebih didorong oleh tujuan-tujuan spesifik yang memang disepakati sejak awal.

Laki-laki cenderung mendiskusikan fakta, menggunakan bahasa yang langsung dan tanpa basa basi. Sementara itu perempuan akan menggunakan bahasa yang tidak langsung, mengajukan pertanyaan saat mengalami keberatan, memberikan arahan yang lebih sedikit, serta melihat negosiasi sebagai perilaku yang terjadi dalam sebuah hubungan tanpa bagian yang menandai kapan mulai dan berakhir.

 

Pertanyaan yang Diajukan

Perempuan lebih cenderung mengajukan pertanyaan terbuka yang memperoleh lebih banyak informasi, sedangkan laki-laki cenderung lebih nyaman saat meminta apa yang mereka inginkan, tanpa banyak memperhatikan kata-kata atau bahasa tubuh, seperti yang banyak diperhatikan oleh perempuan.

Saat umumnya perempuan memanfaatkan percakapan sebagai sarana untuk menjalin hubungan dengan orang lain, laki-laki cenderung melihat percakapan sebagai cara efektif untuk bertukar informasi atau memecahkan masalah.

 

Empati dan Agresi

Perempuan sering diajarkan untuk menghargai hubungan manusia dan mungkin lebih peka dalam melihat sudut pandang orang lain daripada laki-laki, termasuk ketika mereka terlibat negosiasi tentang hal yang sama.

Ini adalah tentang empati yang bisa menjadi kekuatan dalam negosiasi ketika mencari titik-titik kesepakatan, tetapi pendekatan yang ‘terlalu empatik’ justru dapat sedikit memperlambat para negosiator perempuan itu untuk mendapatkan goal ataupun kesepakatan yang semula ia inginkan.

Bagaimana dengan laki-laki yang sering dikaitkan dengan maskulinitas? Mereka mungkin saja menjadi lebih agresif dan lebih mampu ‘bermain keras’ dalam negosiasi. Namun, yang perlu dipahami adalah: baik empati maupun agresi memiliki tempat tersendiri dalam negosiasi, khususnya menghadapi konflik.