Inilah Hal-hal yang Bisa Kita Teladani dari Sosok Pendiri Matahari Department Store

 

Sebagian besar dari kita mungkin tidak asing lagi dengan Matahari Department Store. Namun seberapa banyak dari kita yang mengetahui siapa pendirinya? Beliau adalah Hari Darmawan (77), yang dikenal sebagai salah satu pelopor ritel modern di Indonesia. Tak ada yang menyangka, tanggal 10 Maret 2018 menjadi hari berkabung bagi keluarga dan kerabatnya, termasuk juga para karyawannya.

Pria berdarah Tionghoa kelahiran 1940 yang dikenal melalui bisnis ritel terbesar, Matahari Department Store hingga pemilik kompleks wisata di Puncak, Cisarua – Bogor bernama Taman Wisata Matahari (TWM) itu ditemukan tewas di Sungai Ciliwung, Bogor.

 

Sejarah Matahari Department Store

Memulai bisnisnya dengan membuka toko pakaian di daerah Pasar Baru Jakarta tahun 1958 di usia yang masih belia yaitu 18 tahun. Bisnis pertamanya tidak mulus karena ancaman dari para penyamun bersenjata di Pasar Baru saat itu. Pada tahun 1968, Hari membeli toko serba ada terbesar di Pasar Baru waktu itu yang bernama ‘Toko De Zon’ (dari bahasa Belanda yang berarti The Sun atau Matahari dalam bahasa Indonesia). Itulah mengapa kemudian tokonya kemudian berganti nama menjadi Matahari.

 

Apa yang bisa kita teladani dari beliau?

Beliau adalah seorang pengusaha tulen yang disiplin mengelola aset, konsisten, dan tidak cepat tergoda bisnis yang lain. Jika dihitung seberapa lama beliau menjadi pengusaha, terhitung sejak 1958-2018 beliau mengelola bisnisnya. Sejak tahun 2005 hingga akhir hayatnya, beliau menjadi pengusaha sosial (social entrepreneur). Aktivitasnya sejak saat itu lebih berorientasi untuk berbagi dengan orang lain.

 

Teladan Sampai Akhir Hayat

Untuk regenerasi bisnisnya, beliau memilih 10 karyawan yang ia anggap memiliki hati baik dan berjiwa sosial tinggi, bukan memilih orang yang berasal dari keluarga sendiri. Para karyawan itu dibekali ilmu yang cukup, bahkan sampai disekolahkan ke luar negeri. Pada suatu kesempatan beliau berkata “saya akan tekuni bisnis ini sampai yang maha pencipta memanggil saya.” Benar saja, sampai sebelum wafat, beliau masih memantau bisnisnya.