Cara Unik Agar Mudah Dimaafkan setelah Melakukan Kesalahan

 

Di dalam menjalani kehidupan pasti tidak akan luput dari kesalahan. Interaksi dengan orang-orang dengan bermacam-macam karakter bisa saja memungkinkan terjadinya kesalahan dalam menyikapi satu sama lain. Begitu juga hidup berdampingan dengan pasangan.

Karena suatu hal yang bahkan tidak disengaja, mungkin saja bisa mengakibatkan sakit hati yang mendalam. Tapi bagaimana setelah itu? Apakah sakit hati dibiarkan berkepanjangan?

Bukankah itu justru memperkeruh suasana? Padahal, jika mau memberikan maaf dengan tulus, banyak manfaat yang didapat, misalnya; mengurangi risiko stres, lebih rileks, dan hal-hal positif lainnya.

Seperti dikutip dari Mayo Clinic, memaafkan adalah sebuah proses perdamaian dengan diri sendiri. Penelitian dalam Journal of Health Psychology juga membuktikan kalau orang yang mudah memaafkan lebih baik dalam menghadapi stres atau merespons stres yang dialami, sedangkan rasa benci, dendam dan permusuhan dapat memicu tekanan darah tinggi.

 

Tahapan-tahapan sebelum Memaafkan

Ketika orang di dekat kita terbukti melakukan kesalahan, kita sebenarnya melewati tahapan-tahapan seperti ini;

  1. Mengakui dengan jujur adanya rasa sakit hati atau semacam gejolak yang  memicu kemarahan di dalam dirinya, sebagai akibat dari kesalahan orang lain yang dipercayainya.
  2. Memahami bahwa situasi itu sebenarnya tidak baik untuk dirinya maupun orang lain yang bersangkutan, sehingga harus diubah.
  3. Mulai terbesit menemukan ‘cara baru’ untuk menyikapi orang lain yang telah membuatnya marah atau sakit hati.
  4. Memahami bahwa diri sendiri juga mungkin salah di lain waktu. Maka dari itu, maafkan saja.

Meskipun terlihat begitu mudah dalam mengucapkannya, tapi belum tentu semua orang benar-benar bisa cepat memaafkan kesalahan seseorang. Nah, dilihat dari cara orang meminta maaf, sebenarnya ada cara unik untuk bisa lebih mudah dimaafkan. Tentu ini  terlepas dari besar kecilnya kesalahan yang dibuat.

 

Meminta Maaf melalui Telinga Kanan

Seperti dilansir Telegraph, peneliti dari the University of Valencia mengatakan bahwa meminta maaf lebih efektif disampaikan melalui telinga kanan. Ketika sedang marah, telinga kanan akan lebih responsif terhadap suara atau bunyi-bunyian daripada telinga kiri.

Bunyi kata maaf yang masuk ke telinga kanan akan memungkinkan pesan ‘maaf’ itu diproses lebih baik di dalam otak, terutama otak kiri. Seperti yang kita tahu, otak kiri berfungsi melakukan proses yang berhubungan dengan logika atau pemikiran sehingga bisa menerima pesan dengan lebih rasional.

Memberikan maaf pada orang yang sudah menyakiti kita itu memang tidak mudah, tapi paling tidak kita selalu yakin dan bisa maklum karena sebuah fakta. Walau klise tapi memang begitulah adanya: tidak ada makhluk yang sempurna.