Cara Membuat Percakapan yang Berkualitas

Dalam beberapa situasi di kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari pertanyaan-pertanyaan. Penjelasan yang lengkap dalam obrolan penting, dengan klien bisnis misalnya, dimulai dengan pertanyaan yang berkualitas. Tawar menawar yang efektif dalam negosiasi juga berawal dari pertanyaan yang berkualitas.

Dan ternyata mengajukan pertanyaan yang berkualitas merupakan kebiasaan para pemimpin untuk mendorong kinerja timnya. Pertanyaan yang berkualitas juga menjadi kunci keberhasilan business coaching. Kabar baiknya, seni bertanya adalah hal yang bisa dipelajari.

 

Apa Efek dari Pertanyaan yang Berkualitas?

Pertanyaan yang berkualitas meningkatkan kejelasan, menciptakan kemungkinan yang lebih besar, mengungkapkan pembelajaran baru dan menghasilkan tindakan. Berikut adalah beberapa cara untuk menentukan apakah suatu pertanyaan itu kuat atau tidak. Ini bisa menjadi sarana untuk mengurangi bias informasi dan ‘menyelami’ fakta lebih jauh ke dalam situasi yang dialami seseorang atau tim mereka secara keseluruhan.

 

Seperti apa pertanyaan yang berkualitas?

Orang yang menguasai seni bertanya akan cenderung memilih pertanyaan yang tidak berakhir dengan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ semata. Dalam setiap 20-30 menit percakapan, di sana ada 2-3 pertanyaan yang mengawali. Perlu diingat bahwa tidak semua pertanyaan yang meluncur dalam setiap percakapan adalah kata-kata yang powerful. Ini mungkin adalah titik paling penting untuk diingat tentang seni bertanya. Tidak ada script untuk mengajukan pertanyaan yang kuat. Hanya ada beberapa sifatnya.

 

Belajar dari Anak Balita tentang Rasa Ingin Tahu

Ternyata anak balita bisa ‘mengajari’ kita hal yang krusial ini. Mereka bertanya apa, mengapa dan bagaimana hampir semua yang mereka lihat di dunia di sekitar mereka. Mereka ingin tahu lebih banyak dan tidak membatasi diri pada ekspektasi orang lain tentang apa yang benar atau salah. Mereka hanya bertanya. Powerful question akan mengalir dengan sendirinya ketika ada keingintahuan yang kuat.

 

Mengajukan pertanyaan terbuka (open ended)

Seorang pemimpin harus bisa mengajukan pertanyaan terbuka (open ended) yang tidak menghakimi dan tidak mendikte, seperti misalnya,

“Pembelajaran apa yang Anda temukan?”  

“Apa yang Anda maksud dengan selalu gagal?”

“Bagaimana jika Anda melakukannya dan bagaimana jika Anda tidak?”

“Dukungan apa yang Anda perlukan untuk menyelesaikan proyek ini?”

“Apa yang bisa saya bantu agar masalah Anda cepat selesai?” dan lain sebagainya.

Setelah itu, biarkan ia menemukan jawaban untuk dirinya sendiri. Biarkan sejenak mereka (tim atau klien Anda misalnya) untuk berpikir kreatif, agar bisa mengembangkan solusi-solusi efektif untuk masalah yang dihadapinya. Itulah beberapa bagian dari seni bertanya untuk membuat percakapan yang berkualitas. Bagaimana menurut Anda?