Sudah Tepatkah Mindset Kita Selama Ini dalam Bekerja

Apakah memang tujuan bekerja itu hanya mencukupi kebutuhan saja? Coba kita renungkan kisah yang satu ini. Mungkin Anda pernah membacanya sebelumnya atau sempat mendengarnya di tempat-tempat training motivasi. Semoga bisa jadi pengingat lagi buat kita.

Ini adalah kisah tentang seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai pengecek engsel pintu hotel berbintang lima. Bayangkan, tugasnya sepanjang hari hanyalah memeriksa engsel pintu di setiap kamar, memastikan bahwa pintu-pintu tersebut dapat berfungsi dengan baik.

Dengan pekerjaan yang sekilas terlihat sepele itu, hebatnya, ia selalu mengecek tiap engsel pintu dengan seksama. Pria paruh baya itu mencoba membuka dan menutup pintu berkali-kali, dan tidak asal checklist saja. Konon, setiap hari ia dapat mengecek 20 pintu. Sementara jumlah kamar di hotel itu lebih dari 600. Sebentar, ada apa gerangan dengan angka itu? Suatu hari ia ditanya,

“Apa yang membuatmu begitu serius bekerja tiap saat padahal pekerjaan ini sangat monoton dan membosankan?”

Jawabannya sungguh mengejutkan “Kalau Anda menganggap pekerjaan saya ini hanyalah memeriksa engsel pintu, mungkin Anda belum paham makna dari apa yang saya lakukan,” tutur pria tersebut “saya tahu benar bahwa tamu yang datang ke hotel ini adalah para pemimpin perusahaan, manajer, dan orang-orang penting lainnya yang memiliki keluarga untuk dinafkahi, dan bawahan yang memerlukan arahan mereka,” lanjutnya.

“Jika saat mereka menginap di hotel ini terjadi hal buruk seperti kebakaran, lalu mereka terperangkap di dalam kamar karena pintu tidak berfungsi dengan baik, tentu ada banyak orang yang kehilangan mereka. Oleh sebab itu tugas saya bukan sekedar memeriksa engsel pintu, tugas saya adalah melindungi nyawa orang-orang penting yang menginap di hotel ini.”

Bagaimana menurut Anda? Luar biasa bukan? Sebuah pekerjaan yang terlihat kecil sekalipun, jika dimaknai dengan sungguh-sungguh akan berubah menjadi pekerjaan besar dan mulia. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memaknai pekerjaan yang kita lakukan saat ini? Ataukah kita sekedar bekerja asal jadi, demi sesuap nasi?

Kalau kata Martin Luther King, Jr: “Kalau anda terpanggil menjadi tukang sapu jalanan, sapulah jalanan itu seperti Michelangelo melukis, atau seperti Beethoven menggubah musik atau seperti Shakespeare menulis sajak,”

Pada intinya, makna bekerja itu bergantung dari perspektif masing-masing individu, karena setiap individu memiliki pandangan atau nilai-nilai yang berbeda. Konon, pada tingkatan paling tinggi, seorang bekerja tidak lagi karena alasan uang sama sekali. Tujuan terakhir ini disebut panggilan hidup.