Direnungkan, Sebelum Anda Terjerat Konsumerisme

 

Kekayaan mungkin tampak seperti solusi untuk masalah kita semua, tetapi seringkali itu hanya godaan semu. Untuk sekian kali kita meyakini bahwa uang tidak membeli kebahagiaan. Tidak pula terkait dengan urusan di mana tempat Anda belanja. Seiring kenaikan gaji, gaya hidup biasanya akan ‘menyesuaikan’. Hati-hati, sebab ini menimbulkan masalah baru tentang keuangan setelah belanja lebih banyak barang yang belum tentu dibutuhkan.

Pilihan untuk membeli barang-barang baru adalah salah satu usaha untuk mengisi kekosongan. Meskipun itu, ternyata, bukanlah sebuah usaha yang baik. Untuk sesaat, memang belanja dapat memberi kepuasan. Tapi apakah itu berlangsung lama? Saat kondisi finansial belum mendukung, apa itu menjamin bahwa Anda tidak kembali tergoda, misal saat ada promo diskon akhir tahun?

 

Ternyata, Masalahnya Bukan pada Benda-benda

Kadang secara tidak sadar kira ‘membagi isi dunia’ pada apa yang dimiliki dan apa yang tidak dimiliki. Padahal itu bisa jadi kesalahan mindset, dan itu cukup fatal. Kali ini berpura-puralah Anda sebagai satu-satunya orang di dunia, dilahirkan dari asal yang tidak diketahui dan selalu hidup sendiri. Katakanlah Anda juga sepenuhnya mandiri dan dapat bertahan dari isolasi sepenuhnya. Sekarang katakan, apa yang Anda miliki? Anda kemungkinan besar tidak akan menjawabnya karena konsep itu tidak masuk akal. Tanpa orang lain, urusan kepemilikan adalah ilusi. Bagaimana mungkin akan membandingkan, jual beli, dan berkompetisi tanpa orang lain?

 

Apa Masalahnya dengan Konsumerisme dan Apa Solusinya?

Aktivitas konsumsi menjadi berlebihan ketika melampaui apa yang dibutuhkan. Ketika kita mulai mengonsumsi lebih dari yang dibutuhkan. Dan budaya konsumsi yang mengelilingi kita mulai membuat konsumsi berlebihan tampak alami dan normal. Itu menjanjikan kebahagiaan, tetapi tidak pernah memberikan.

Solusi mendasar untuk mengatasi konsumerisme adalah membangun kekuatan batin yang stabil. Dunia batin ini tidak sepenuhnya terpisah dari aspek material, melainkan merupakan sebuah sudut pandang baru untuk melihat proses kehidupan yang sedang berlangsung.

Seseorang dengan kekuatan batin yang stabil tidak akan terobsesi membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan, juga tidak meninggalkan benda-benda yang telah dimilikinya. Sebaliknya dia bisa mengerahkan seluruh upayanya untuk menahan diri dari membelanjakan hartanya.

Saatnya untuk menyadari bahwa konsumsi berlebihan tidak memberikan kebahagiaan dan kepuasan abadi. Konsumsi diperlukan, tetapi konsumsi berlebihan tidak. Dan kehidupan bisa lebih baik dijalani (dan lebih dinikmati) dengan sengaja menolak untuk membeli sesuatu yang Anda ingin, tapi tidak benar-benar butuh.

[diringkas dari sumber Lifehack.com]